WAK
SOB COMMUNITY
Kalau
sudah tamat SMP, pasti kangen semasa masih SMP dulu. Kalau sudah tamat SMA,
pasti bilang masa-masa SMA itu takkan terlupakan. Hmmm... Sama juga juga halnya
kalau kita sudah tamat kuliah. Pasti merindukan momen-momen tertentu dimana
kenangan itu terasa berharga. Dari kenangan indah semasa kuliah inilah cerita
ini berawal.
Ada
yang bilang kalau semasa kuliah kita bisa berjuang sendiri dengan semua
kemampuan kita. Gak boleh bentuk-bentuk kelompok karena akan membatasi pertemanan.
Dan juga ada yang bilang, membuat grup-grup tertentu dalam suatu kelas sesuai
dengan kecocokan mereka masing-masing, ya sah-sah saja. Hmm... Menurut aku pribadi
, aku lebih memilih pilihan yang kedua. Karena kita gak selamanya bekerja
sendiri. Pasti ada tangan-tangan kecil milik orang lain yang bekerja di dalam
hidup kita. I belive with that!
Memang
kedengaran aneh di telinga. Nama Wak Sob
Community ini lebih terasa asing dan agak lazim bagi orang yang baru
mendengarnya. Didasari dari sapaan “Wak”
dan juga singkatan dari sapaan Sobat untuk “Sob”
inilah yang membuat komunitas baru yang “aneh” dan “gokil” ini tercipta.
Awalnya ada sekitar 14 orang yang ikut ambil bagian dalam kelompok ini yang
tentunya masih dalam ruang lingkup satu kelas. Mereka adalah Adinda, Benny,
Choms, Christian, Daniel, Dewi, Eka, Eksu, Grace, Hamdy, Hery Nanda, Marlin,
Misbahudin, dan Vista. Hahahaha... Bisa dibilang ini grup belajar yang cukup
besar dalam satu kelas. J
Ada
yang datang, dan ada juga yang pergi. Seiring dengan berjalannya waktu, anggota
dalam grup ini pun berganti karena tak ada yang selamanya abadi toh. Banyak hal
dan alasan yang diterima ketika beberapa anggota keluar dari grup ini. Ada yang
karena sudah kuliah di universitas lain, dan ada pula yang merasa tidak terlalu
cocok untuk terus bergabung. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena kami
menyadari bahwa semuanya tetap adalah teman, walau tidak sering menghabiskan
waktu bersama lagi. Dan juga karena grup ini bukan kantor yang punya birokrasi
ketat dimana kalau tidak cocok, bisa dimaki, diberi sanksi, bahkan di-PHK
sesuka hati. Ya... Walau ada yang keluar, tapi ada juga yang masuk kan? Dan
kali ini jumlahnya sebanding. Equal!
Dua orang yang keluar dan dua orang yang masuk. Mereka adalah Korina dan
Yohanna, dua orang wanita yang “cukup gila” dan “gokil” yang berani untuk
memulai lembaran baru mereka selama di kampus bersama teman-teman gokil dalam
grup ini.
Dari
tadi kalian pasti bertanya, gokilnya itu seperti apa sih. Hahaha... Coba
bayangkan jika dalam satu kelas itu, troublemaker-nya
ada 14 orang. Dan semuanya saling “umpan” lawakan yang setiap hari pasti ada
lah “korban”nya. J
Ntah jadi apa lah kelas itu jadinya kan? Sulit untuk dideskripsikan dengan
kata-kata. Tetapi justru dari lelucon itulah kelangsungan Wak Sob Community ini tetap berjalan. Ya... Awalnya memang ada
beberapa orang yang sakit hati jika di-“kick”
dan merasa tidak terima dengan perlakuan beberapa temannya. Katanya teman, tapi
kok gitu sih. Seperti itulah kata-kata yang dapat dideskripsikan. Dan untungnya
setiap orang dalam grup ini mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah. (Seperti
moto salah satu perusahaan aja.) Hehehehe....
Yang
membuat grup ini sulit untuk dilupakan walau mereka akan berpisah di ujung wisuda
nanti adalah kebersamaan dan pelajaran dari setiap masalah yang telah mereka
lalui. Kenangan selama mengerjakan tugas-tugas kuliah, “ribut” di kelas, ngaso
di DPR Audit (Di bawah Pohon Rindang), dan perayaan ulang tahun ini bisa
membangkitkan rasa rindu di masa depan. Dimana semuanya itu takkan terulang dua
kali. Selain kenangan akan kebersamaan tadi, ada juga pelajaran tentang hidup
yang mampu mendewasakan diri mereka masing-masing yang tentunya dengan cara
mereka sendiri. Ada yang tidak lagi menjadi orang yang cengeng jika diberi
lelucon tentang dirinya, ada yang menjadi lebih mampu menahan amarahnya, ada
yang menjadi tidak terlalu sensitif, ada yang menjadi lebih bijaksana, ada yang
menjadi lebih royal dan tidak pecicilan, serta ada pula yang akhirnya “bisa keluar dari sarangnya” walau
hanya sebentar. Sungguh pelajaran berharga yang tidak dapat kita temukan di
dalam kelas selama kuliah. Mana ada kan nama mata kuliah ANGER MANAGEMENT yang diampuh salah satu dosen kita dimana kita
disuruh untuk bisa menahan amarah kita. Walau di-bully, dimaki, dipukuli, dan digelitiki pakai silet, kita tidak
marah. Mana ada! Kecuali di jurusan Psikologi mungkin ada.
Nggak
gampang melalui semuanya itu tanpa adanya pengertian. Banyak hal yang harus
dimengerti agar bisa mencapai level tertinggi dari hubungan persahabatan itu
sendiri. Dimana kita harus tahu kapan waktu yang pas untuk bercanda, topik
pembicaraan seperti apa yang harus dibahas, dan bagaimana setiap masalah itu
harus diselesaikan. Cukup sulit memang. Tapi tidak sesulit bermain Russian Roullette ataupun membeli
“kucing dalam karung” dimana lebih sering salah daripada benarnya karena lebih
mengutamakan luck daripada experience-nya. Seperti itulah
rumus-rumus yang harus dipelajari agar bisa bertahan sampai akhir. Walau tidak
sesulit rumus matematika ataupun fisika, tapi tetap menjadi tantangan
tersendiri selama kuliah.
Tak
terasa delapan semester telah dilalui bersama. Suka dan duka telah dijalani
dengan hati yang lapang walau jalan penuh lubang. Lalu sebuah pertanyaan pun
muncul. Mengapa hari ini harus berlalu? Hari-hari dimana kita bersatu dengan
utuh. Kadang kebersamaan ini dilalui sedikit tanpa logika dan penuh tanda
tanya. Apakah kita akan selalu bersama? Hmmm.... Sedikit perih dan hampir
menjadi elegi. Tapi cinta dan cita kita akan selalu tetap ada. Bersama memori
yang masih bisa menyimpan rekaman-rekaman suka dan duka kita, aku akhiri cerita
ini.
#Medan,
25 Agutus 2012 – 01:35
Benny
Jefri Wijaya Hutabarat
081222210002
tribute
to Wak
Sob Community
NB: Juara kedua Lomba Karya Tulis UKMKP UP-FBS 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar